Me My Self & My Journal Blog

RELiGi

GEMPUNGAN SCOOTERIST BANDUNG [GSB] BLOG

Setelah beberapa bulan terakhir mengajukan diri untuk membuat blog khusus grup motor Vespaku, akhirnya dari pihak pengurus mengijinkan juga. Tanpa menyia2kan kesempatan, aku membuat blog dengan menggunakan WP, karena lebih mudah dan sudah biasa dalam menggunakan fasilitasnya.

Nama Blognya adalah Gempungan Scooterist Bandung, atau biasa disingkat dengan GSB. Klub Vespa kami sudah termasuk kedalam keanggotaan di Ikatan Vespa indonesia, dan jumlah anggota kami sekitar 40 orang. Kegiatan GSB adalah Triwulan Touring, pengajian Mingguan, dan mengikuti event2 yang diselenggarakan klub2 Vespa lainnya. Meskipun hanya beranggotakan 40 orang, namun kegiatan rutin pengajian tidak pernah terlewat di GSB.

Pengajian adalah salah satu cara GSB untuk mempererat sillaturrahmi, sekaligus menambah wawasan dalam beragama.


KHIMAR, NIQAB, DAN ABAYA

” Ayah, aku pengen pake baju kayak tante itu..” ucap anak sulungku, anak perempuanku yang baru berumur 6 tahun. Orang yang ditunjuk adalah seorang wanita yang menggunakan abaya dan niqab. “itu juga, itu juga…” katanya berulang2 ketika kembali lewat orang2 yang menggunakan pakaian muslimah khas Timur Tengah, kali ini wanita beserta anak2nya yang menggunakan khimar. Didaerahku memang banyak keluarga muslim yang menggunakan pakaian tertutup dari ujung rambut hingga ujung jari, bahkan tangannya pun dibungkus sarung tangan. Kami sekeluarga biasa melihat orang2 berpakaian ala Timur Tengah itu di Pasar Manglayang, pasar kaget yang hanya buka setiap hari minggu di daerah Manglayang Regency.

Aku pun tersenyum mendengar permintaan anakku, membayangkan keluarga kami menggunakan pakaian2 tersebut. Akhirnya pada hari minggu berikutnya, kami sekeluarga sepakat untuk sarapan bubur di pasar sambil menikmati liburan bersama keluarga. Tukang bubur langganan kami adalah Abu Ahmad, seorang tukang bubur yang tak pernah lepas menggunakan pakaian muslim. Dengan pakaian lebar, celana diatas mata kaki, dan tak pernah lepas kopiah hitamnya, lelaki itu selalu tersenyum ketika melayani konsumennya yang mengantri. Bubur buatan Abu Ahmad memang terkenal enak, tidak encer, gurihnya pas, dan yang lebih penting, porsinya pas, sesuai dengan jumlah uang yang kami keluarkan untuk harga semangkok bubur itu.

Aku  pun cepat2 menyelesaikan sarapanku, tujuanku cuma satu…bertanya tentang pakaian yang mereka gunakan dan orang2 yang sering aku lihat setiap hari minggu. Abaya, burqa, niqab, khimar, dan hijab2 lain yang menjadi pemandangan lumrah di daerah kami, memberi warna lain di pasar itu yang notabene masyarakatnya datang untuk berbelanja ataupun hanya berjalan2 dengan menggunanakn pakaian seadanya. Tak jarang ada orang yang masih terlihat lusuh dengan piyamanya, atau remaja2 yang tertawa2 kecil dengan pakaian olahraga ketatnya ataupun mini jeans. Ada pula ibu2 sekitar lingkungan itu yang ber-aerobik ria didepan minimarket yang menyediakan tempat dan panggung bagi pelatih dengan musik2 gak jelas. Berlenggak lenggok membelakangi para tukang ojek yang istirahat dibelakang mereka, menikmati bentuk tubuh yang dibalut pakaian olahraga yang tentu saja sangat pas ditubuh dan kadang kekurangan bahan juga.

Abu Ahmad tersenyum ketika aku bertanya tentang pakaian muslim itu, dan bertanya alasannya aku menanyakan perihal pakaian2 yang ternyata dipakai oleh rekan2nya itu. Setelah aku menjelaskannya, Abu Ahmad memebritahukan bahwa pakaian itu tidak dibeli di Pasar Baru ataupun toko pakaian muslim di Bandung, tapi dipesan langsung dari rekan mereka yang juga masih satu komunitas dengannya. Beliau memberikan nomor telpon selularnya ketika aku minta, dan mengantar kepergian kami dengan senyuman ketika matahari sudah mulai memanggang ubun2 kami.

Rasa tak percaya mengantar aku sampai ke Pasar Baru, pusat penjualan pakaian di Bandung untuk membeli abaya, ataupun Khimar. Setelah berkeliling selama 2 jam di gedung itu dengan hasil nihil, kami memutuskan untuk mencari disekitaran Pasar Baru, toko2 pakaian muslim milik orang dengan wajah2 Timur Tengah. Ternyata hasilnya pun nol, dan aku pun menyerah, pulang dengan tangan hampa. Mungkin memang ada benarnya juga, kalau didaerah kami pakaian tersebut tidak dijual umum, atau mungkin juga orang yang menjualnya belum mempromosikannya dengan baik.

Permintaan anakku untuk memiliki Khimar ataupun abaya itu belum bisa aku penuhi, aku pun belum bisa menjelaskan pentingnya totalitas ketika nanti dia menggunakannya. Untuk saat ini aku hanya bisa mengamini permintaan anakku, berdo’a berharap suatu saat anakku bisa menggunakan pakaian yang sesuai dengan tuntunan ajaran agama Islam.


BLOG ADIK KECILKU

Aku orang yang tipenya gak begitu suka keliling di blog orang lain kalau gak begitu bermanfaat buatku, makanya perkembangan informasi agak kurang bisa mengikuti :D Namun di salah satu pilihan WP ternyata ada sebuah fitur “Find Friend”, dan lebih spesifiknya lagi teman yang menggunakan jejaring sosial FB. Rasa penasaran menuntunku untuk mengetahui seberapa banyak teman FBku yang bikin Blog di WP. Ternyata jumlahnya hanya 26 orang dari 1900 orang lebih ;P Mungkin banyak Webblog yang lain yang lebih mudah atau lebih terkenal dari WP, atau mungkin juga masih kurangnya orang untuk meluangkan waktu membuat blog dan menikmati rutinitasnya. Aku sendiri sudah membuat blog dari tahun 2008 lalu, meskipun dengan berbagai kendala, isi blog tidak begitu signifikan dalam memberi informasi.

Dari 26 orang teman di jejaring sosialku, ternyata salah satunya adalah adik kandungku. Senang juga melihat adikku membuat blog, lebih senang lagi ternyata isi blognya adalah pembelajaran ilmu agama. Aku bangga kepada adikku, dia lebih kuat berjuang dalam mempelajari agama, bahkan dengan tekad kuatnya itu, dia kuliah jurusan PAI dengan biaya sendiri di Jakarta setelah lulus di Akademi Kimia Analis di Bogor dengan titel Ahli Madya Kimia Analis. Titelnya rela dia copot demi mengejar cita2nya mempelajari ilmu agama, bahkan pada awal2 kuliahnya, dia rela menyisihkan setengah uang gajinya untuk biaya kuliah padahal gajinya di bawah UMR.

Tulisan yang tercantum di blog ku yang berisi “Budaya ngeblog adalah budaya baca dan menulis dalam skala massal. Sebuah budaya yang dilakukan bangsa-bangsa maju dan civilized. Indonesia akan tetap berkutat dalam kemunduran kalau masih stagnan pada budaya lisan dan enggan mereformasi diri. Setiap Blogger Indonesia “berkewajiban” untuk mengajak rekan-rekannya ngeblog–dengan bahasa Inggris atau Indonesia — untuk sama-sama menuju tradisi baru insan modern.” bermaksud mengajak agar orang2 lebih mau mengembangkan dirinya dengan mengapresiasikan diri dalam bentuk tulisan. Bahkan Mr. Yoshitake dalam bukunya “Jyakusa No Senryaku” [Strategi Bisnis Orang Lemah], seorang motivator bisnis terkenal asal Jepang mewajibkan dirinya untuk menulis di blog minimal sekali dalam satu hari. Maksudnya agar klien dan masyarakat umum bisa melihat perkembangan perusahaan atau kehidupan sehari2nya. Tentu saja yang baik2 saja, yang jelek2nya bisa diunggah dengan materi pembelajaran agar orang lain tidak mengikuti kejelekannya.

kembali ke Blog adikku, link ini akan membawa anda kedalam pengetahuan tentang Agama Islam. mudah2an bermanfaat bagi anda.


JAGOANKU DISUNAT

“Ooooom!!! Jangan dihabisiiiinnn”!!!, “Bilangin ke Oomnya udah gituhhh!!!”, “Minta robot warna merah!!!”, dan beberapa teriakan lain selain tangis dan cengkraman tangan jagoanku di pergelangan tanganku tadi pagi. Dengan sangat mendadak kami memutuskan akan meng-khitan anak lelaki kami yang baru genap berumur 4 tahun pada tanggal 29 April 2012 kemarin. Pagi itu rumah kami sangat ramai, nenek, ibu, kakakku sekeluarga, dan sepupuku beserta suaminya datang ketika kami beri kabar pada malam kemarin bahwa jagoan kami akan disunat. Riuh rendah canda tawa, tangis anak2, dan yang sibuk memasak untuk sarapan, menghangatkan suasana di pagi hari.

ImageKhitan , pemotongan kulup/kulit lebih dari ujung penis, yang jadi kewajiban bagi anak laki2 dalam Islam dan tidak akan pernah terlewat bagi keluarga kami, dilakukan dengan tuntas meskipun membutuhkan waktu agak lama. Penyebabnya adalah infeksi yang terjadi pada penis jagoanku, sehingga membuat kulitnya lengket. Proses khitan itu sendiri dilakukan oleh staff bedah dari RSUD. Kota Bandung, salah satu rekan kerja istriku. Alhamdulillah berkat bantuannya dan keahliannya, semua bisa ditangani dengan lancar.

Infeksi pada penis akibat kotoran yang menumpuk pada kulilt tersebut, ternyata sudah terdeteksi sejak lama. Jagoanku sering mengeluh sakit ketika kencing, sering menggaruk penisnya ketika tidur dan terbangun sambil menangis, dan kadang aku melihat ketika selesai kencing jagoanku tidak membersihkan penisnya dengan baik. Infeksi itu akhirnya terlihat ketika di khitan, membuat prosesnya lebih lama dan menyakitkan.

Perlu 3 orang untuk menghentikan gerakan2 tubuh jagoanku, dan 2 dokter untuk meng-eksekusi kulit bandel itu. Peluh kami bercucuran, 3 kali anastesi dokter berikan, nenek pun menangis di ujung kursi, dalam sebuah usaha untuk mencapai kesempurnaan akidah.  Ekspresi lucu jagoanku sebelum disunat, membuat kami tertawa. Tangis dan nafas tersenggal ketika disunat, menyesakkan dada kami. Tertidur terlentang tanpa celana dengan wajah kelelahan, mengguratkan bangga dan bahagia kami. Do’aku untuk jagoanku, semoga pencapaian akidah anak kami lebih tinggi dari kami. Sungguh indah  ajaran Islam…:D


EGO Tidak Senang Disiplin

dari milis alumni_da_garut, dari Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani QS
Lefke, Siprus

www.rumisuficafe. blogspot. com/

A’udzu billahi min asy-Syaitani ‘r-Rajim. Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahim. Dastur Ya Sayyidi Madad

Kita memerlukan disiplin. Kita memerlukannya untuk membawa diri kita dari level terendah menuju level tertinggi. Level terendah dalam al-Qur’an disebutkan, “tsumma radadnahu asfala safiliin” “kemudian Kami rendahkan mereka ke tempat paling rendah” [QS 95:5]. Arti dari asfala safiliin dapat ditemukan dalam hasrat fisik kita. Selama seseorang masih bersama hasrat kebinatangan yang tidak pernah berakhir itu, ia akan berada di level terendah. Karakter ini adalah milik binatang.

Selama kita mengikuti bisikan ego dan keinginan fisik kita berada pada level yang sama dengan binatang. Tetapi kita telah dipanggil, kita telah diundang untuk bangkit dari asfal, level terendah menuju ahsan, level tertinggi. Dan kita telah diberikan sebuah mesin untuk perjalanan ini oleh Yang berada di Surga. Mesin itu adalah disiplin. (lagi…)


Gusti Allah Tidak “Ndeso”

Oleh: Emha Ainun Nadjib
 
Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun. “Cak Nun,” kata sang penanya, “misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?”
 
Cak Nun menjawab lantang, “Ya nolong orang kecelakaan.”
 
“Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?” kejar si penanya.
 
“Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu,” jawab Cak Nun. (lagi…)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.988 pengikut lainnya.