Me My Self & My Journal Blog

Posts tagged “anak

FIRST DAY SCHOOL

Yesterday was a first day my kids go to school, they were so excited. By using the new uniforms, new shoes, new bag, new books, they look very cute. I feel a little nervous, worried my child would cry at school or a fight with his friend. Apparently they were really enjoy, even to get go to school this morning.

This slideshow requires JavaScript.


Keisha Hijab

my first child who turn 6th year old in this year, love to wear a hijab


ODONG-ODONG

Para penjual jasa mainan anak2 sekarang semakin  marak, baik itu di kota ataupun di desa2. Waktu aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar, aku sering sekali membujat mainan2 bersama teman2ku dengan menggunakan bilah bambu ataupun pelepah daun pisang. Mainan mobil2an, kuda2an, gangsing, layangan, pedang2an, ataupun mainan lainnya sering kami buat mengisi hari2 anak2 waktu dulu.

 

sekarang permainan banyak disediakan oleh para pejual jasa ataupun penjual maianan. Playstasion, XBox, game PC, Game Online, Radio Control, Wahana Bermain, Mengendara kuda, Odong2, dan lain2. Mainan sekarang rata2 terbuat dari plastik dan bahan metal. Jarang sekali terlihat anak2 membuat mainan, mereka langsung meminta kepada orang tuanya dan membeli di toko2 ataupun menyewanya.

Anakku yang sulung paling rajin naik Odong2, wahana mainan yang sederana dengan biaya yang murah. anya dengan seribu rupiah, anak2 dapat menaiki wahana itu dengan 3-5 kali putaran, atau dengan jangka waktu 5 menit. Jika permintaannya tidak dipenuhi, tangisnya tidak akan berhenti.

 

Namun suatu hari ketika kami hendak berkunjung ke rumah orang tua, kami melewati sebuah jembatan diatas sungai kecil yang airnya keruh berwarna coklat. Disana terlihat seorang penjual jasa odong2 sedang mencuci odong2nya dengan air sungai tersebut. Seketika anakku bertanya, “Ayah, kenapa odong2nya dicuci disitu? kan airnya kotor” ucapnya dengan mimik muka yang bingung. Aku tidak berusaha menjelaskannya, membiarkan anakku mencari jawabannya sendiri.

 

Minggu berikutnya ketika kami berjalan2 ke Pasar Minggu, anakku yang biasanya minta uang untuk naik odong2, ternyata hanya melihat ke arah anak2 yang berebutan menaiki odong2 yang mangkal disudut sebuah Ruko. Terlihat orang tua mereka yang tersenyum dan melambai-lambaikan tangannya, menyemangati sebagian anak2 yang agak ketakutan. Anakku hanya berkata, “Yah, kasian yah anak2 itu, nanti pulangnya musti mandi tuh biar gak gatal2 badannya. Kan odong2 dicucinya di sungai” ucapnya dengan polos.

 

Sudah hampir 2 tahun berlalu semenjak anakku melihat Odong2 yang dicuci di sungai, dan dia tidak pernah meminta untuk menaiki wahana itu lagi. Sekarang dia senang sekali naik kuda, kuda yang sekali jalan harus membayar lima ribu rupiah :D


KHIMAR, NIQAB, DAN ABAYA

” Ayah, aku pengen pake baju kayak tante itu..” ucap anak sulungku, anak perempuanku yang baru berumur 6 tahun. Orang yang ditunjuk adalah seorang wanita yang menggunakan abaya dan niqab. “itu juga, itu juga…” katanya berulang2 ketika kembali lewat orang2 yang menggunakan pakaian muslimah khas Timur Tengah, kali ini wanita beserta anak2nya yang menggunakan khimar. Didaerahku memang banyak keluarga muslim yang menggunakan pakaian tertutup dari ujung rambut hingga ujung jari, bahkan tangannya pun dibungkus sarung tangan. Kami sekeluarga biasa melihat orang2 berpakaian ala Timur Tengah itu di Pasar Manglayang, pasar kaget yang hanya buka setiap hari minggu di daerah Manglayang Regency.

Aku pun tersenyum mendengar permintaan anakku, membayangkan keluarga kami menggunakan pakaian2 tersebut. Akhirnya pada hari minggu berikutnya, kami sekeluarga sepakat untuk sarapan bubur di pasar sambil menikmati liburan bersama keluarga. Tukang bubur langganan kami adalah Abu Ahmad, seorang tukang bubur yang tak pernah lepas menggunakan pakaian muslim. Dengan pakaian lebar, celana diatas mata kaki, dan tak pernah lepas kopiah hitamnya, lelaki itu selalu tersenyum ketika melayani konsumennya yang mengantri. Bubur buatan Abu Ahmad memang terkenal enak, tidak encer, gurihnya pas, dan yang lebih penting, porsinya pas, sesuai dengan jumlah uang yang kami keluarkan untuk harga semangkok bubur itu.

Aku  pun cepat2 menyelesaikan sarapanku, tujuanku cuma satu…bertanya tentang pakaian yang mereka gunakan dan orang2 yang sering aku lihat setiap hari minggu. Abaya, burqa, niqab, khimar, dan hijab2 lain yang menjadi pemandangan lumrah di daerah kami, memberi warna lain di pasar itu yang notabene masyarakatnya datang untuk berbelanja ataupun hanya berjalan2 dengan menggunanakn pakaian seadanya. Tak jarang ada orang yang masih terlihat lusuh dengan piyamanya, atau remaja2 yang tertawa2 kecil dengan pakaian olahraga ketatnya ataupun mini jeans. Ada pula ibu2 sekitar lingkungan itu yang ber-aerobik ria didepan minimarket yang menyediakan tempat dan panggung bagi pelatih dengan musik2 gak jelas. Berlenggak lenggok membelakangi para tukang ojek yang istirahat dibelakang mereka, menikmati bentuk tubuh yang dibalut pakaian olahraga yang tentu saja sangat pas ditubuh dan kadang kekurangan bahan juga.

Abu Ahmad tersenyum ketika aku bertanya tentang pakaian muslim itu, dan bertanya alasannya aku menanyakan perihal pakaian2 yang ternyata dipakai oleh rekan2nya itu. Setelah aku menjelaskannya, Abu Ahmad memebritahukan bahwa pakaian itu tidak dibeli di Pasar Baru ataupun toko pakaian muslim di Bandung, tapi dipesan langsung dari rekan mereka yang juga masih satu komunitas dengannya. Beliau memberikan nomor telpon selularnya ketika aku minta, dan mengantar kepergian kami dengan senyuman ketika matahari sudah mulai memanggang ubun2 kami.

Rasa tak percaya mengantar aku sampai ke Pasar Baru, pusat penjualan pakaian di Bandung untuk membeli abaya, ataupun Khimar. Setelah berkeliling selama 2 jam di gedung itu dengan hasil nihil, kami memutuskan untuk mencari disekitaran Pasar Baru, toko2 pakaian muslim milik orang dengan wajah2 Timur Tengah. Ternyata hasilnya pun nol, dan aku pun menyerah, pulang dengan tangan hampa. Mungkin memang ada benarnya juga, kalau didaerah kami pakaian tersebut tidak dijual umum, atau mungkin juga orang yang menjualnya belum mempromosikannya dengan baik.

Permintaan anakku untuk memiliki Khimar ataupun abaya itu belum bisa aku penuhi, aku pun belum bisa menjelaskan pentingnya totalitas ketika nanti dia menggunakannya. Untuk saat ini aku hanya bisa mengamini permintaan anakku, berdo’a berharap suatu saat anakku bisa menggunakan pakaian yang sesuai dengan tuntunan ajaran agama Islam.


PEREMPUANKU MODELKU

Tidak adanya model membuat aku sulit untuk terus mengembangkan kesenanganku dalam fotografi, khususnya di genre model. Terkadang ketika ada model pun aku seringkali hanya menjadi additional fotografer karena lebih senang mengatur lighting daripada memotret. Namun hal itu agak terobati, karena istri dan anakku tidak pernah menolak untuk dipotret.

Sering aku memotret mereka, baik natural maupun dengan diatur terlebih dahulu. Beberapa fotonya telah aku aplod ke beberapa album di  Jejaring Sosialku, namun karena kesibukan dan tidak suka bekerja sendiri yang membuatku jarang serius melakukan pemotretan keluargaku sendiri :D. Tapi kemarin malam anak perempuanku maksa minta dipotret, karena dia baru dibeliin kalung sama bundanya, padahal bundanya beli buat kepentingan wardrobe fotografi ku :D Jadi semangat lagi, tar weekend motret keluargaku aja deh :D tunggu kabarnya ya ^^d


KASIHAN BUNDA

Istriku adalah seorang pekerja keras dan penyabar dimataku dan mata anak2ku. Dia selalu meluangkan waktu dan pikirannya untuk mengurus kami, memasak demi perut2 serakah kami, membereskan mainan2 kami, dan mengurus anak2 orang di tempatnya bekerja. Pekerjaannya Sebagai perawat di RSUD Kota Bandung selalu menyita waktu hingga 8-10jam, selesai bekerja pun status sebagai perawatnya tidak pernah ia tanggalkan.

Ketika kami sakit, dia yang sibuk merawat kami, memberikan obat dengan telaten dan sabar karena sebagian dari kami tidak suka makan obat. Aku bedrest seminggu karena flu, dia yang merawat tanpa perlu ke Rumah Sakit. Anak sulung Cacar, dikarantina dirumah dan dirawat dengan penuh cinta. Anak kedua demam, dia yang menemani setiap malam anakku terbangun dan minta minum. Anak bungsu yang masih 4 bulan, masih bunda juga yang musti terbangun 2-3 kali tiap malam untuk menyusui. alangkah sempitnya waktu untuk beristirahat, alangkah lelah raut wajahnya.

Image

Tapi apa yang terjadi saudara2 ???!!!! Suatu pagi ketika semua sedang bersiap untuk berangkat beraktifitas, aku yang bersiap pergi ke kantor, bunda yang berbenah rumah dan bersiap berangkat bekerja, anak Sulung yang masih malas2an nonton TV sambil menunggu diantar sekolah, anak kedua yang sibuk bermain, dan anak bungsu yang menangis kencang minta disusui, istriku tertawa kecil sambil berdiri di depan kami. Kami bingung dengan sikapnya, jangan2 karena rutinitas yang merepotkan bunda merasa tertekan dan merencanakan sesuatu yang aneh2. “Bunda kenapa?” tanya Anak sulungku…”gak kenapa2, bunda punya sesuatu untuk kalian” ucapnya dengan lemah lembut. Dia beranjak ke meja kerja dan mengambil HPnya, dan dia memperlihatkan sebuah foto…..foto yang dia ambil ketika kami masih terlelap dalam mimpi2 kami. ” ini tadi shubuh bunda foto, kompak banget deh…lucu” katanya sambil tertawa.

Kami tertawa pagi itu, membuat kami semangat untuk beraktifitas. Janjiku dalam hati, “AKU AKAN SEMANGAT BEKERJA, AGAR KAMU TETAP SEMANGAT MENGURUS KAMI”…heuheu :D


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.